Pesugihan Penjual Gorengan
Halo, Sahabat Dunia Cerita! Kenalkan saya Admin Perpusduta. Kali ini izinkan saya berbagi sebuah cerita yang berjudul PESUGIHAN PENJUAL GORENGAN. Cerita ini saya dapat dari Facebook dan diposting oleh Motivasi Mu. Yuk kita baca sama-sama! :)
*ππππππππΌπ ππππ ππΌπ πππππππΌπ*
(πΊπΈππ°π· π½ππ°ππ°) ππππ ππ ππππππππ
π£ππππ£
Suasana di dalam kamar ritual itu mendadak mencekam, lebih dingin dari embusan angin malam mana pun yang pernah kurasakan. Nela berdiri mematung di antara puing-sesajen yang hancur, napasnya memburu, dan matanya menyala oleh amarah sekaligus kekecewaan yang mendalam.
"Apa maksud ini semua Mas?!" suaranya gemetar, pecah oleh tangis yang tertahan. "Jadi benar kamu Mas pelakunya? Kamu yang menyebabkan
kema tian janggal tetangga-tetangga kita? Aku kecewa sama kamu... tega kamu!"
Kata-kata itu menghujam jantungku lebih tajam dari saya tan silet di kelingkingku. Nela melangkah pergi, berusaha menghindariku seolah aku adalah mon ster yang paling men ji jik kan.
"Nel, maafkan aku! Mas begini karena kamu dan Yura agar kita bisa hidup enak agar kita tidak dihina lagi!" seruku mengejarnya, mencoba meraih tangannya yang dingin.
Namun, Nela menepisnya dengan kasar. "Tapi bukan dengan cara seperti ini, Mas! Demi mendapat keuntungan, kamu tega mengorbankan nya wa orang lain!"
Tanpa memberi kesempatan padaku untuk membela diri, Nela masuk ke kamar tidur kami dan membanting pintu. BRAK! Suara kunci yang diputar dari dalam terdengar seperti vonis ma ti bagiku.
"Nel, buka pintunya! Mas mau bicara, Mas mau jelasin semuanya!" aku menggedor pintu kayu itu berkali-kali, namun hanya keheningan yang menjawab. Malam itu, untuk pertama kalinya, kemewahan yang kupunya terasa hambar. Sesak di dadaku tak tertahankan, istri yang menjadi alasan keberangkatanku ke jalan ge lap ini, justru menjadi orang pertama yang mengutukku.
Keesokan paginya, matahari naik tanpa membawa kehangatan. Nela masih membisu. Aku terpaksa menyiapkan dagangan gorenganku sendirian, tanpa bantuan tangan lembutnya yang biasa menyiapkan wajan. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Ia melewati aku seolah-olah aku hanyalah bayangan hitam yang tak terlihat.
Sepanjang hari itu, kami saling diam dalam kemarahan yang membeku. Suasana rumah yang biasanya hangat dengan celoteh Yura, mendadak berubah menjadi dingin dan sunyi seperti kuburan. Setelah aku pulang berkeliling dengan hasil uang yang melimpah, kondisi tetap tidak berubah. Nela tetap tidak menyapaku, tidak menatapku, bahkan tidak mau berada di ruangan yang sama denganku.
Tiga hari berlalu dalam siksaan batin yang luar biasa. Hingga pada suatu sore, setelah aku pulang dari rute dagangku, aku disambut oleh kesunyian yang ganjil. Aku mencari ke setiap sudut rumah, ke dapur, ke kamar mandi, hingga ke teras belakang.
"Nela? Yura?" panggilku lirih.
Tak ada jawaban. Kamar-kamar kosong. Lemari pakaian mereka terlihat berantakan, dan beberapa helai baju telah raib. Jantungku berdegup kencang, firasat buruk mulai merayap di tengkukku. Saat aku berdiri kebingungan di depan pintu, suara Mbak Sari, tetangga dekat kami, memanggil dari luar.
"Assalamu’alaikum, Mas Danu..."
Aku segera keluar, mencoba memasang wajah senormal mungkin meski badai sedang berkecamuk di dadaku. "Wa’alaikumussalam, Mbak Sari. Ada apa ya?" tanyaku sopan.
"Begini Mas, tadi Mbak Nela titip pesan sama saya. Katanya dia mau pulang kampung sama Yura," ucap Mbak Sari polos.
Mendengar kalimat itu, duniaku seakan runtuh seketika. Rasanya seperti ada tangan gaib yang meremas jantungku hingga han cur. Tega sekali Nela meninggalkanku tanpa mau mendengar penjelasanku sedikit pun. Namun, karena tak ingin Mbak Sari menaruh curiga, aku memaksa sebuah senyum palsu tersungging di bibirku.
"Oh... iya Mbak makasih. Tadi Nela juga sudah mengabari saya kalau mau pulang kampung," ucapku berbohong, mencoba menjaga martabat yang sebenarnya sudah terkoyak.
"Sama-sama Mas Danu, saya pamit pulang ya," ucap Mbak Sari lalu pergi meninggalkan halaman rumahku.
Tiba-tiba, ponsel di saku celanaku berdering. Sebuah notifikasi pesan masuk. Itu dari Nela. Dengan tangan yang gemetar hebat, aku membuka pesan itu. Setiap kata yang tertulis di sana terasa seperti belati yang menusuk langsung ke jiwaku, membuat hatiku han cur berkeping-keping tanpa sisa.
Layar ponselku yang retak memancarkan cahaya pucat di tengah kegelapan kamar. Sebuah pesan singkat dari Nela muncul, namun isinya lebih tajam dari sembilu, ia ingin bercerai dariku. Duniaku runtuh seketika. Aku mencoba meneleponnya berulang kali hingga jariku lemas, namun tak ada jawaban. Pesan-pesan permohonan maafku hanya berakhir dengan tanda centang kelabu yang diabaikan. Malam itu, di tengah kemewahan rumah yang mulai terasa seperti penjara, penyesalan pertama kali menyusup ke dadaku, dingin dan menyesakkan.
Hari-hari berikutnya kulalui dengan raga yang kosong. Aku kehilangan gairah untuk menyalakan kompor, apalagi mendorong gerobak. Ritual Selasa Wage pun mulai kutinggalkan. Namun, kegelapan yang telah kuberi makan selama tiga tahun tidak akan melepaskanku begitu saja.
Suatu malam, dalam tidur yang gelisah, aku terjebak dalam mimpi buruk yang terasa sangat nyata. Sosok monyet raksasa dengan bulu hitam legam dan mata merah menyala berdiri tepat di depanku. Hawa busuk tercium dari mulutnya saat ia menggeram dengan nada dalam yang menggetarkan sukma.
"Jika kamu melanggar... akan aku ambil
nya wamu!"
Aku tersentak bangun dengan peluh dingin yang membasahi seluruh tubuh. Jantungku berdegup kencang seolah ingin melompat keluar.
"Astagfirullahhaladzim... aku tidak mau ma ti. Nanti bagaimana dengan anak dan istriku?" bisikku sambil terisak di pojok tempat tidur, sendirian dalam ketakutan yang tak terbayangkan.
Teror mimpi itu memaksaku untuk kembali mendorong gerobak keesokan harinya. Ketakutan akan maut mengalahkan rasa malas. Seminggu kemudian, saat aku sedang sibuk menggoreng di pinggir jalan, ponselku bergetar. Bapak menelepon.
"Halo, Pak? Tumben Bapak menelepon, ada apa?" tanyaku mencoba menutupi getar suaraku.
"Danu... apa yang kamu lakukan di sana, Le? Istrimu bercerita hal yang bukan-bukan tentang kamu. Apa itu benar kamu melakukan hal se sat?" Suara Bapak terdengar parau dan penuh luka. "Danu, kamu anak Bapak, Le. Bapak melahirkan kamu untuk jadi orang yang benar, bukan malah mence lakai orang lain. Sadarlah, Le... Bapak ingin kamu jadi orang baik. Carilah nafkah yang halal biarpun hanya sedikit."
Mendengar nasihat Bapak, pertahananku runtuh. Air mata jatuh menetes ke atas bungkusan gorengan di tanganku. "Enggeh, Pak... enggeh..." hanya itu yang mampu kuucapkan di sela isak tangis.
Nasihat Bapak membuatku tak sanggup melanjutkan jualan. Aku langsung pulang dan merebahkan diri karena kelelahan batin yang luar biasa. Namun, begitu mataku terpejam sosok monyet mengerikan itu kembali hadir. Ia terus mengancam akan mengambil nya waku, mengejarku dalam labirin mimpi yang tanpa ujung.
Aku terbangun dengan napas tersengal. Malam itu juga, didorong oleh rasa takut yang memuncak, aku berlari menuju masjid di dekat kosku. Aku bersujud, menangis sejadi-jadinya di atas lantai masjid yang dingin. Di sana, aku melihat seorang Ustadz sedang duduk khusyuk berdzikir. Aku menghampirinya dengan tubuh gemetar, bermaksud meminta pertolongan. Akan tetapi rasa malu yang besar membuatku tak berani jujur tentang perjanjian gela pku.
"Ustadz... saya sedang sakit. Bisa tidak, Tadz, bantu saya sembuhkan pakai doa?" tanyaku memelas.
Ustadz itu menatapku dengan teduh. "Insya Allah bisa, Mas atas pertolongan ALLAH SWT," ucapnya lembut. Beliau kemudian mengambil sebuah botol air mineral dan mulai membacakan doa-doa dengan khusyuk.
"Nah, coba minum ini Mas. Dan yakinlah bahwa ALLAH-lah yang menyembuhkan," ucap beliau sambil menyerahkan botol itu.
"Terima kasih Ustadz," ucapku lalu segera pamit pulang.
Sesampainya di rumah, aku langsung meminum air doa itu dengan penuh harapan. Ajaibnya, hawa panas yang biasanya menyelimuti dadaku perlahan mereda. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku bisa tertidur dengan sangat nyenyak tanpa gangguan mimpi buruk atau bayangan marah sang monyet pesugihan. Aku merasa sejenak terlepas dari jeratan ib lis, meski aku tahu, perang melawan kege lapan ini barulah dimulai.
Pagi itu, aku tetap memaksa diriku untuk mendorong gerobak. Di tengah rasa takut yang menghantui, logikaku hanya tertuju pada satu hal: aku harus mencari nafkah untuk anak dan istriku, satu-satunya alasan yang tersisa bagiku untuk bertahan hidup.
Sore harinya, saat aku baru saja melepas lelah di rumah, Mas Agus datang berkunjung. Dia adalah rentenir yang dulu sering kupinjami uang saat aku masih susah. Kedatangannya kali ini justru malah meminjam uang sebesar lima belas juta rupiah padaku. Karena merasa uangku masih melimpah, aku memberikannya tanpa ragu. Kami pun mengobrol cukup lama, hingga akhirnya Mas Agus merendahkan suaranya, menyampaikan kabar yang membuat dadaku sesak.
"Mas Danu tahu tidak? Kamu itu sedang jadi omongan orang-orang sini. Katanya... gorenganmu mengandung ra cun," ucap Mas Agus pelan.
"Hah? Ra cun? Tidaklah Mas. Aku tidak pernah memasukkan ra cun ke daganganku. Memangnya siapa yang menuduh begitu?" tanyaku dengan jantung yang berdegup kencang, berusaha menutupi kegugupan.
"Pak RT dan warga kompleks ini, Mas. Mereka mulai mencocokkan kejadian-kejadian kemarin. Seperti kema tian Pak Edi yang gan tung di ri setelah makan gorenganmu, dan yang paling parah, anak Pak RT si Nada itu. Katanya sebelum mening gal dia kejang-kejang dan sempat mun tah cacing bercampur da rah," jelas Mas Agus.
Deg. Rasanya jantungku berhenti berdetak. Gambaran Nada yang meregang nya wa dengan cara menge rikan kembali terbayang. Tapi aku harus bertahan. "Ya tidak mungkinlah, Mas. Masa saya mau mema tikan usaha sendiri dengan
mera cuni pembeli? Mungkin Nada kera cunan makanan lain sebelumnya," jawabku berpura-pura tenang.
Mas Agus mengangguk-angguk kecil. "Iya juga ya, Mas. Sudahlah, anggap saja gosip. Yang penting Mas Danu fokus cari uang saja."
Setelah lama mengobrol Mas Agus pampit pulang, tak lama sebuah pesan masuk dari Nela. Ia tetap bersikeras ingin bercerai. Aku terus membujuknya melalui pesan, memohon agar ia mau menemuiku. Tekad Nela sudah bulat, ia tidak ingin lagi memakan uang haram yang aku berikan.
Di tengah keputusasaan itu, Nela memberikan satu syarat terakhir, jika aku ingin rumah tangga kami kembali utuh, aku harus meninggalkan jalan ge lap ini untuk selamanya. Aku menangis sejadi-jadinya malam itu. Bagaimana caranya aku bisa lepas? Kata Mbah Suro, perjanjian ini tidak bisa dibatalkan. Jika aku pergi, nya waku adalah taruhannya.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Bayangan kehilangan Nela dan ketakutan akan kema tian terus berperang di dalam kepalaku. Hingga akhirnya, aku teringat pada Pak Ustadz yang menolongku tempo hari. "Beliau pasti bisa membantuku," batin ku mantap.
Paginya, tanpa membuang waktu, aku langsung menuju rumah Pak Ustadz. Di sana, pertahananku runtuh. Sambil bersujud dan menangis, aku menceritakan segalanya—tentang pesugihan, tentang tumbal, dan keinginanku untuk bertobat.
"Astagfirullah, Mas Danu... untungnya kamu mau bertobat. Belum terlambat. Ayo ikut saya ke masjid, saya akan meruqyahmu," ajak Pak Ustadz dengan nada prihatin.
Di dalam masjid yang tenang, Pak Ustadz mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Begitu doa ruqyah dibacakan, tubuhku bereaksi hebat. Punggungku terasa sangat panas, seperti
disa yat-sa yat oleh pi sau taj am yang membara.
Aku berteriak keras, meronta-ronta tak terkendali di atas lantai masjid. Dan perlahan-lahan hawa panas itu menguap tubuhku jatuh lemas tak berdaya.
"Alhamdulillah, Mas Danu. Sekarang kamu sudah bersih. Makhluk itu sudah terlepas. Sekarang, kencangkan ibadahmu dan jangan pernah lupa berdzikir," pesan Pak Ustadz.
"Terimakasih Ustazd jawab ku lalu pamit pulang kembali.
Perjuanganku pun belum berakhir. Keesokan harinya, aku jatuh sakit parah. Seluruh badanku terasa panas dan linu, seolah tulang-tulangku remuk. Dalam kondisi lemah, sosok monyet itu sesekali kembali mendatangi mimpiku dengan wajah penuh amarah yang mengerikan. Setiap kali ia muncul, aku segera merapalkan Ayat Kursi dan doa Nabi Sulaiman seperti yang diajarkan Pak Ustadz. Makhluk itu pun lenyap seketika.
Dua hari kemudian, Pak Ustadz datang menjengukku. Beliau menasihatiku untuk terus melawan makhluk itu dengan doa dan jangan pernah meninggalkan shalat meski dalam keadaan sakit. Hari itu juga, Pak Ustadz membantuku membujuk Nela. Mengetahui bahwa aku telah benar-benar bertobat dan melalui penderitaan hebat untuk bersih, Nela akhirnya luluh. Ia memaafkan segala kesalahanku dan kembali ke pelukanku.
Kini, hidupku telah berubah. Aku memang harus menjual kedua motorku untuk biaya pengobatan dan menutupi kebutuhan selama aku sakit, namun aku tidak menyesal. Mungkin dagangan gorenganku tidak lagi selaris dulu saat masih menggunakan pelaris lu dah iblis, tetapi aku malah merasa jauh lebih tenang.
Aku bahagia bisa kembali bersama Nela dan Yura. Setiap suap nasi yang kuberikan pada mereka kini berasal dari nafkah yang halal. Jadikanlah kisahku ini sebagai pengingat bagi kalian semua: jangan pernah mencoba hal bo doh dan se sat demi harta duniawi. Karena harta yang didapat dari kegelapan, hanya akan membawa penderitaan yang tak berujung.
TAMAT
Sumber tautan: https://web.facebook.com/share/p/1dzrtMw9ps/
Komentar
Posting Komentar