Tidak Tahu Balas Budi
Halo, Sahabat Dunia Cerita! Kali ini izinkan saya berbagi sebuah cerita yang berjudul TIDAK TAHU BALAS BUDI. Cerita ini saya dapat dari Facebook dan diposting oleh Digie. Yuk kita baca sama-sama! :)
Malam itu, hujan gerimis turun. Pak Romi, yang sedang bersantai di teras rumahnya menangkap suara tangisan anak kecil yang menyayat hati dari arah rumah kecil milik tetangganya.
Tanpa berpikir panjang, ia menyambar payung, berlari keluar. Rumah itu milik Bu Santi, seorang janda yang baru dua tahun lalu ditinggal suaminya.
Pak Romi mengetuk pintu kayu yang sudah mulai lapuk dengan pelan. "Permisi, assalamu'alaikum."
Tak lama, pintu terbuka sedikit. "Waalaikumsalam," jawab Bu Santi. Wajahnya lesu, matanya sembab. Cahaya di rumahnya temaram.
"Ada apa, Bu? Saya tadi mendengar suara tangisan anak-anak. Apa ada yang sakit?" tanya Pak Romi cemas.
Air mata Bu Santi kembali luruh. Ia menyeka pipinya dengan ujung kerudung. "Tidak ada yang sakit, Pak. Anak-anak menangis karena kelaparan. Sejak pagi tadi saya tidak punya apa pun untuk dimasak. Beras habis, dan tabungan saya benar-benar kosong."
Pak Romi teringat masakan istrinya."Tunggu sebentar.”
Pak Romi berlari ke rumahnya. Beberapa detik kemudian, ia kembali membawa sebuah rantang aluminium susun 5 yang masih mengepulkan uap hangat.
"Ini, Bu. Ada nasi dan opor ayam. Tadi istri saya masak banyak sekali, sekalian kami memang ingin membagi-bagikannya untuk tetangga supaya semua bisa mencicipi hasil daging ayam dari peternakan saya sendiri. Tolong diterima, berikan pada anak-anak," ucap Pak Romi dengan senyum tulus.
Bu Santi menerima rantang itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih banyak, Pak Romi. Saya tidak tahu lagi harus mengadu ke mana malam-malam begini. Dagangan mainan saya di pasar benar-benar sepi hari ini. Tidak ada satu pun balon dan kincir angin yang laku."
Pak Romi hanya mengangguk pelan, memberikan semangat sebelum pamit kembali ke rumahnya. Ia tidak tahu bahwa malam itu, rantang opor tersebut bukan sekadar pengganjal perut, melainkan penyambung nyawa bagi sebuah keluarga.
Tiga hari setelah malam yang dingin itu, sebuah badai besar yang berbeda menghantam hidup Pak Romi. Polisi mendatangi rumahnya dan membawanya dengan tangan terborgol. Sesosok ma-yat pria ditemukan di pinggir hutan, tepat di balik tembok pembatas peternakan miliknya. Bukti-bukti di lapangan—sebuah pisau pem+otong daging yang mirip dengan milik peternakannya—mengarah kuat padanya.
Dunia Pak Romi runtuh. Teman-teman bisnisnya, orang-orang kaya yang sering ia traktir di restoran mewah dan ia bantu modalnya, tiba-tiba menghilang. Saat Pak Romi meminta dukungan moral atau bantuan pengacara, mereka memberikan seribu satu alasan untuk menghindar.
"Maaf, Rom, kami tidak mau terlibat masalah kriminal," ujar salah satu rekan terbaiknya lewat telepon sebelum memutus sambungan.
Pak Romi terduduk di balik jeruji besi, merasa dikhianati oleh dunia. Ia merasa sendirian.
Hari persidangan tiba. Jaksa penuntut umum memaparkan tuduhan yang sangat memberatkan. Pak Romi tidak memiliki alibi yang kuat untuk membuktikan di mana ia berada pada jam kejadian—yakni malam saat hujan gerimis terjadi.
Namun, di tengah suasana sidang yang tegang, pintu ruang sidang terbuka. Bu Santi melangkah masuk dengan pakaian yang sangat sederhana namun rapi. Ia menggandeng kedua anaknya.
"Yang Mulia, saya bersedia menjadi saksi untuk Pak Romi," ucapnya lantang, memecah kesunyian ruangan.
Hakim mempersilakannya duduk di kursi saksi. Dengan suara yang jernih, Bu Santi menceritakan setiap detail malam itu.
"Malam saat kejadian itu, Pak Romi tidak mungkin berada di hutan. Dia ada di depan pintu rumah saya. Dia datang membawakan rantang opor ayam untuk anak-anak saya yang kelaparan tepat pada jam yang disebutkan oleh jaksa. Dia berada di sana cukup lama untuk memastikan kami semua makan," tutur Bu Santi. Ia bahkan membawa rantang kosong yang sama sebagai bukti kecil, dan menunjukkan catatan waktu di jam dinding rumahnya yang sempat ia lihat saat Pak Romi mengetuk pintu.
Kesaksian Bu Santi bukan hanya soal waktu, tapi soal karakter. Ia menceritakan bagaimana seorang pria yang begitu peduli pada perut anak tetangganya yang miskin, mustahil adalah seorang pembu-nuh berdarah dingin.
Kesaksian itu menjadi titik balik. Penyelidikan lebih lanjut kemudian menemukan bahwa pisau tersebut adalah barang curian, dan pelaku sebenarnya tertangkap berkat sidik jari yang tertinggal di area lain. Pak Romi dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan dari segala tuduhan.
Saat keluar dari gedung pengadilan, Pak Romi langsung menghampiri Bu Santi yang sedang menunggu di selasar.
"Bu Santi, terima kasih. Ibu telah menyelamatkan hidup saya," ucap Pak Romi dengan mata berkaca-kaca.
Bu Santi tersenyum kecil, ia menunduk dalam-dalam. "Tidak, Pak. Bapaklah yang menyelamatkan kami lebih dulu. Jika malam itu Bapak tidak mengetuk pintu membawa rantang opor, mungkin anak-anak saya sudah jatuh sakit karena kelaparan, dan saya mungkin sudah kehilangan harapan pada dunia. Bapak memberikan kami makanan, dan Tuhan memberi kami kesempatan untuk membalasnya."
Terkadang orang miskin lebih tahu balas Budi ketimbang mereka yang bergelimangan harta. Percaya lah apa yang kita tanam akan kembali lagi ke diri kita sendiri.
TAMAT
Sumber tautan: https://web.facebook.com/share/p/1E2qT51vQT/
Komentar
Posting Komentar