Sepasang Sandal Ibu

Halo, Sahabat Dunia Cerita! Kali ini izinkan saya berbagi sebuah cerita yang berjudul Sepasang Sandal Ibu. Cerita ini saya dapat dari Facebook dan diposting oleh Nasihat Diri. Yuk kita baca sama-sama! :)

Di sebuah desa kecil hiduplah seorang pemuda bernama Rafi bersama ibunya. Ayahnya sudah lama meninggal, sehingga ibunyalah yang menjadi satu-satunya orang yang merawat dan membesarkannya.

Ibu Rafi hanyalah seorang penjual gorengan di pinggir jalan. Setiap pagi sebelum matahari terbit, ia sudah bangun menyiapkan adonan dan menyalakan kompor kecil di dapur yang sederhana. Meski hidup mereka tidak pernah berkecukupan, ibunya selalu berusaha agar Rafi bisa makan dan sekolah dengan baik.

Suatu hari ketika Rafi hendak berangkat kerja, ia melihat ibunya sedang menyapu halaman. Pandangan Rafi tertuju pada sandal jepit yang dipakai ibunya. Sandal itu sudah sangat usang. Talinya hampir putus dan bagian bawahnya sudah tipis karena terlalu sering dipakai.

“Ibu, sandalnya sudah jelek begitu. Kenapa tidak beli yang baru?” tanya Rafi.

Ibunya tersenyum lembut.

“Masih bisa dipakai, Nak. Sayang kalau dibuang.”

Rafi mengangguk saja. Dalam hati ia berkata,

“Nanti kalau gajian aku belikan sandal baru buat ibu.”

Namun hari demi hari berlalu. Ketika gajian datang, uang Rafi habis untuk membeli baju baru, nongkrong bersama teman, dan membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu penting. Janji untuk membeli sandal ibu selalu ia tunda.

Beberapa minggu kemudian, saat pulang kerja, Rafi melihat ibunya sedang berjalan pulang dari pasar dengan langkah pelan. Ia membawa kantong plastik berisi sayuran.

Yang membuat hati Rafi sedikit terenyuh adalah ketika ia melihat sandal ibunya benar-benar sudah hampir putus.

“Besok saja aku belikan,” gumamnya dalam hati.

Namun “besok” itu tidak pernah benar-benar datang.

Suatu malam, ibu Rafi tiba-tiba jatuh sakit. Tubuhnya demam tinggi dan ia tampak sangat lemah. Rafi panik dan segera membawa ibunya ke rumah sakit.

Beberapa hari ibunya dirawat. Rafi duduk di samping tempat tidur sambil memegang tangan ibunya yang sudah keriput.

Ibunya tersenyum lemah.

“Ibu tidak apa-apa, Nak. Kamu jangan terlalu khawatir.”

Rafi menahan air mata.

Namun takdir berkata lain. Pada suatu pagi yang sunyi, ibunya menghembuskan napas terakhir.

Dunia Rafi terasa runtuh. Rumah kecil itu kini terasa sangat sepi tanpa suara ibunya.

Beberapa hari setelah pemakaman, Rafi merapikan barang-barang ibunya. Ia membuka lemari kecil yang selama ini jarang ia perhatikan.

Di sudut lemari, ia menemukan sesuatu yang membuat dadanya sesak.

Sepasang sandal jepit tua milik ibunya.

Talinya sudah disambung dengan peniti kecil. Bagian bawahnya hampir habis karena tipis.

Rafi memegang sandal itu dengan tangan gemetar.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Ibu… maafkan aku…”

Ia teringat janjinya yang selalu ia tunda.

Selama ini ia mampu membeli sepatu mahal untuk dirinya sendiri. Ia mampu membeli banyak hal untuk kesenangan. Namun satu hal sederhana yang sangat dibutuhkan ibunya tidak pernah ia lakukan.

Membelikan sandal baru.

Rafi memeluk sandal itu sambil menangis.

Kini ia akhirnya mampu membeli sandal yang paling mahal sekalipun.

Namun sandal itu tidak akan pernah dipakai oleh ibunya lagi.

Sumber tautan: https://web.facebook.com/share/p/186Mwpcnvt/

Komentar