Nasi Goreng
Halo, Sahabat Dunia Cerita! Kali ini izinkan saya berbagi sebuah cerita yang berjudul Nasi Goreng. Cerita ini saya dapat dari Facebook dan diposting oleh Junaidi Karo Karo. Yuk kita baca sama-sama! :)
TEMAN SAYA JAGO SEKALI MASAK NASI GORENG.
SETIAP KALI DIA MEMASAK, AROMANYA BISA MEMBANGUNKAN ORANG YANG SUDAH TIDUR.
TAPI SELAMA BERTAHUN-TAHUN…
SAYA TIDAK PERNAH SEKALI PUN MELIHAT DIA IKUT MAKAN.
DAN MALAM ITU…
SAYA AKHIRNYA MENGETAHUI ALASAN SEBENARNYA.
⸻
Teman saya namanya Ardi.
Kami tinggal di rumah kontrakan kecil di sebuah gang sempit di pinggiran kota.
Rumahnya sederhana.
Dindingnya sudah mulai mengelupas.
Kalau malam, lampu ruang tengahnya redup seperti sudah lelah menerangi rumah itu.
Di rumah itu kami tinggal berlima.
Dan Ardi adalah orang yang paling sering masuk dapur.
Kalau malam, ketika suara motor lewat gang mulai jarang dan hanya terdengar kipas angin tua berderit di ruang tengah, Ardi biasanya sudah berdiri di dapur.
Wajan besar di atas kompor.
Minyak panas mulai mendesis.
Lalu suara sendok logam mengaduk nasi.
Dan tidak lama kemudian…
Aroma nasi gorengnya memenuhi seluruh rumah.
Aromanya gila.
Bawang putih.
Kecap manis.
Sedikit cabai.
Campurannya selalu pas.
Setiap kali dia memasak, kami semua otomatis keluar kamar.
Seperti kucing mencium ikan.
“Ardi… bikin lagi?” tanya saya dari pintu dapur.
Dia cuma tersenyum kecil.
“Iya. Lapar kan kalian?”
Lalu dia membagi nasi goreng itu ke beberapa piring.
Piring plastik warna-warni yang sudah agak kusam.
Kami makan di ruang tengah sambil duduk di lantai.
Kadang sambil nonton YouTube dari HP.
Kadang sambil ngobrol soal kerjaan.
Kadang sambil ketawa.
Tapi ada satu hal yang selalu sama.
Ardi tidak pernah ikut makan.
Tidak pernah.
Awalnya saya pikir dia sudah kenyang.
Atau mungkin dia sudah makan duluan.
Tapi semakin lama saya tinggal di rumah itu, semakin terasa aneh.
Setiap kali kami makan…
Dia hanya duduk di kursi dekat pintu.
Melihat kami.
Kadang sambil main HP.
Kadang hanya tersenyum kecil.
“Lu gak makan?” tanya saya suatu malam.
Dia menggeleng.
“Udah kenyang.”
Padahal saya tidak pernah melihat dia makan sebelumnya.
Teman-teman lain juga mulai menyadari.
“Di, lu serius gak makan?” tanya Raka suatu malam.
Ardi tertawa kecil.
“Udah biasa.”
Jawaban itu selalu sama.
Udah biasa.
Lama-lama saya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Karena tidak mungkin seseorang yang memasak seenak itu…
Tidak pernah makan.
⸻
Suatu malam hujan turun deras.
Air hujan memukul atap seng seperti ribuan kerikil kecil.
Listrik sempat berkedip.
Di ruang tengah hanya ada lampu kuning redup.
Kami semua sudah masuk kamar masing-masing.
Saya hampir tertidur ketika tiba-tiba mencium bau yang sangat familiar.
Nasi goreng.
Saya melihat jam di HP.
Pukul 12 malam.
Saya keluar kamar.
Dapur masih menyala.
Dari balik pintu, saya melihat Ardi berdiri di depan kompor.
Seperti biasa.
Wajan besar.
Api kecil.
Sendok logam beradu dengan wajan.
Tapi malam itu…
Saya tidak langsung masuk.
Entah kenapa, saya hanya berdiri di luar dapur.
Mengintip sedikit dari celah pintu.
Dan di situlah saya melihat sesuatu yang membuat dada saya terasa aneh.
Ardi memasak nasi goreng seperti biasa.
Gerakannya cepat.
Terlatih.
Seperti koki restoran.
Beberapa menit kemudian nasi goreng itu jadi.
Dia mematikan kompor.
Lalu mengambil satu piring.
Mengisi nasi goreng sampai penuh.
Saya pikir dia akhirnya akan makan.
Tapi tidak.
Dia membawa piring itu ke meja kecil di sudut dapur.
Di situ ada sebuah foto kecil.
Foto seorang wanita tua.
Rambutnya sudah putih.
Wajahnya lembut.
Ardi meletakkan piring nasi goreng di depan foto itu.
Lalu duduk.
Beberapa detik dia diam.
Tangannya memegang sendok… tapi tidak makan.
Saya melihat bahunya sedikit bergetar.
Dan tiba-tiba…
Saya sadar.
Ardi sedang menangis.
Dia berbicara pelan.
Suaranya hampir tertelan suara hujan.
“Bu… hari ini aku bikin nasi goreng lagi.”
Dia menelan napas.
“Yang dulu Ibu suka.”
Saya merasakan tenggorokan saya tiba-tiba kering.
Ardi menatap foto itu lama sekali.
Seperti seseorang yang sedang berbicara dengan orang yang sangat dirindukan.
“Dulu Ibu selalu bilang nasi gorengku enak…”
Suara Ardi pecah sedikit.
“Tapi waktu itu aku belum sempat bikin buat Ibu lagi.”
Baru malam itu saya tahu satu hal.
Ibunya Ardi meninggal dua tahun lalu.
Dan sebelum meninggal…
Ibunya sempat berkata ingin makan nasi goreng buatan Ardi sekali lagi.
Tapi Ardi sedang kerja di luar kota waktu itu.
Ketika dia pulang…
Ibunya sudah tidak ada.
Sejak malam itu…
Ardi memasak nasi goreng hampir setiap hari.
Bukan karena dia lapar.
Tapi karena itu satu-satunya cara yang dia tahu untuk tetap merasa dekat dengan ibunya.
Saya tidak sadar air mata saya sudah jatuh sejak tadi.
Tanpa sengaja saya menginjak sesuatu di lantai.
Kresek plastik berbunyi.
Ardi menoleh.
Dia melihat saya berdiri di pintu dapur.
Kami saling diam beberapa detik.
Lalu dia tersenyum kecil.
Senyum yang sangat lelah.
Saya masuk ke dapur.
Tanpa berkata apa-apa.
Saya mengambil satu sendok.
Menyendok nasi goreng itu.
Lalu duduk di sebelahnya.
“Kita makan bareng ya, Di.”
Ardi menatap saya.
Matanya merah.
Lalu dia mengangguk pelan.
Malam itu kami makan nasi goreng di dapur kecil.
Dengan suara hujan di atap seng.
Dan foto ibunya di depan meja.
Beberapa minggu setelah malam itu…
Ardi mulai ikut makan bersama kami.
Tidak banyak.
Tapi sudah tidak hanya duduk melihat.
Suatu malam dia berkata pelan,
“Mungkin Ibu juga gak mau lihat aku cuma masak tapi gak makan.”
Kami semua tertawa kecil.
Sejak saat itu setiap kali Ardi memasak nasi goreng…
Kami selalu menyisakan satu piring kecil di meja dapur.
Untuk ibunya.
Dan anehnya…
Setiap kali kami makan bersama seperti itu…
Nasi gorengnya selalu terasa lebih enak dari biasanya.
Karena kadang…
Masakan paling enak di dunia bukan soal bumbu.
Tapi tentang siapa yang kita ingat ketika memasaknya.
⸻
Kalau cerita ini mengingatkanmu pada seseorang yang pernah memasak untukmu dengan penuh cinta…
Tolong bagikan cerita ini.
Siapa tahu malam ini ada seseorang yang juga sedang merindukan orang tuanya… dan cerita ini bisa sedikit menghangatkan hatinya.
Dan kalau kamu masih punya orang tua yang bisa kamu telepon hari ini,
tulis AMIN di komentar sebagai doa agar mereka selalu diberi kesehatan.
Karena suatu hari nanti…
yang paling kita rindukan bukan rumahnya.
Bukan dapurnya.
Tapi orang yang dulu berdiri di dapur itu.
Sumber tautan: https://web.facebook.com/share/p/18DcGhoSfF/
Komentar
Posting Komentar