Menjelang Lebaran

Halo, Sahabat Dunia Cerita! Kali ini izinkan saya berbagi sebuah cerita yang berjudul MENJELANG LEBARAN. Cerita ini saya dapat dari Facebook dan diposting oleh Digie. Yuk kita baca sama-sama! :)

Suasana desa SUKA-SUKA KAMU DEH menjelang Lebaran tahun ini memang luar biasa sibuk. Bukan sibuk membuat kue nastar atau mengecat pagar, tapi sibuk mengamankan barang masing-masing. Di grup WhatsApp warga, laporannya macam-macam, mulai dari hilangnya motor matic, kalung emas, sampai laporan Pak Tejo yang kehilangan tujuh pasang celana dalam keramatnya, padahal sudah bolong-bolong.

"Pokoknya, kalau desa ini aman sampai malam takbiran, kalian berdua saya kasih hadiah!" janji Pak RT sambil menunjuk Dulkemin dan Badrun.

"Siap, Pak RT! Jangankan maling, nyamuk yang mau gigit warga saja bakal kami minta KTP-nya!" sahut Dulkemin mantap.

Malam itu, jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Hansip Jojo sudah tertidur pulas di pos ronda, itu sebabnya barang-barang milik warga sering hilang.

"Min, kalau kita dapat hadiah dari Pak RT, kamu mau minta apa?" tanya Badrun sambil sesekali menguap.

"Aku mau minta naik jabatan jadi camat, Drun," jawab Dulkemin.

“Ngawur kamu Min, yang realistis gitu loh permintaannya.”

Langkah mereka terhenti di depan pagar tinggi rumah Pak Haji. Ada dua bayangan hitam sedang memanjat tembok dengan cekatan. Itu adalah Wereng dan Wodo, duo maling yang akhir-akhir ini sering beraksi.

"Sstt ... Drun! Itu malingnya!" bisik Dulkemin.

"Waduh, Min! Mereka bawa linggis! Kita lari saja panggil warga?" ucap Badrun gemetaran.

"Jangan, Drun! Keburu mereka pergi. Aku punya ide.”

Dulkemin merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah retak seribu.

Di dalam halaman rumah Pak Haji, Wereng dan Wodo sedang mengendap-endap menuju pintu samping.

"Reng, feeling-ku nggak enak. Kayak ada yang mengawasi," bisik Wodo sambil menenteng karung kosong.

"Halah, palingan kucing. Fokus ke brankas Pak Haji!" sentak Wereng.

Tiba-tiba, sebuah cahaya lampu senter yang sangat terang menyorot wajah mereka dari balik pot bunga. Belum sempat mereka bereaksi.

"SELAMAT MALAM PARA NETIZEN INDONESIA! KEMBALI LAGI DI LIVE STREAMING PALING VIRAL ABAD INI, MARI UNBOXING MALING LIVE!"

Wereng dan Wodo terpaku. Mereka melihat Dulkemin memegang ponsel yang diarahkan ke mereka, sementara Badrun berdiri memegangi kayu balok.

"OKE GUYS! KITA SUDAH DAPAT DUA TALENTA BARU KITA MALAM INI! AYO, DILIHAT WAJAHNYA! GANTENG-GANTENG TAPI MALING! UNTUK PARA PENONTON, SILAKAN KIRIM GIFT SINGA KALAU MAU LIHAT MEREKA JOGET! KIRIM GIFT MAWAR KALAU MAU MEREKA SALTO!" teriak Dulkemin dengan semangat membara.

Wereng panik. "Reng, kita masuk TV? Atau masuk YouTube?"

"Bukan! Ini Live TikTok! Wajah kita bisa dilihat jutaan orang! Karir kita sebagai maling profesional bisa hancur!" seru Wereng sambil menutupi wajahnya.

“Tenang kita kan pakai topeng,” jawab Wodo.

“Topengmu belum dipakai itu disaku celana.” Wereng menunjuk saku celana sahabatnya yang menonjol.

"WADUH! PENONTON SUDAH TEMBUS 1 JUTA ORANG! MANTAP!”

Ketakutan akan menjadi viral dan dipermalukan di media sosial ternyata jauh lebih besar daripada ketakutan ditangkap polisi bagi Wereng dan Wodo. Apalagi Dulkemin terus berteriak, "Waduh, akun lambe-lambean sudah join! Siap-siap viral se-Indonesia!"

Tanpa pikir panjang, Wereng dan Wodo yang memang agak kurang update teknologi itu langsung percaya. Karena ingin mendapatkan belas kasihan netizen mereka berdua malah klarifikasi meminta maaf dan akan tobat.

Dengan mudah Dulkemin dan Badrun menangkap dua maling tersebut.

"Sesuai janji saya, ini hadiah untuk kalian berdua!" Pak RT memberikan plastik besar.

Dulkemin dan Badrun membuka plastik masing-masing dengan semangat. Ternyata isinya seragam Hansip.

“Selamat kalian berdua resmi menjadi hansip menggantikan hansip Jojo,” ucap Pak RT.

Dulkemin dan Badrun tersenyum kecut. Tiba-tiba Pak Haji datang.

“Min, Drun. Karena kalian sudah berhasil mengamankan rumah saya, ini buat kalian,” Pak Haji memberikan dua iket uang seratus ribuan.

“Buat saya mana Pak Haji?” tanya Pak RT.

“Tenang.” Pak Haji mengambil uang dari dompetnya yang penuh warna merah, lalu mengambil satu lembar yang warna biru. “Ini Pak RT, buat beli kopi.”

Pak RT tersenyum kecut, mengambil uang itu.

TAMAT

Sumber tautan: https://www.facebook.com/share/p/1E21dECAuw/

Komentar