Kesetiaan yang Dikhianati

Halo, Sahabat Dunia Cerita! Kali ini izinkan saya berbagi sebuah cerita yang berjudul Kesetiaan yang Dikhianati. Cerita ini saya dapat dari Facebook dan diposting oleh Cerita Sebelum Tidur ID. Yuk kita baca sama-sama! :)

Seorang ibu hidup dengan sangat hemat selama 28 tahun karena ia mengira suaminya bekerja keras demi menghidupi keluarga... Sampai pada hari di mana anak perempuannya meletakkan sebuah kartu ATM berisi tiga juta di tangannya dan berkata: "Ibu, bercerailah."

Dan ketika ia membuka map tebal itu, di sanalah ia mengetahui bahwa selama 14 tahun, suaminya diam-diam telah membangun keluarga lain.

"Ibu... berpisahlah dengan Papa."

Putriku, Mira, meletakkan sebuah kartu ATM di telapak tanganku. Aku tertegun. Rasanya seperti ada angin dingin yang menembus dadaku.

— "Ada tiga juta peso di sini, Bu," katanya pelan.

Tiga juta. Aku tidak langsung mengerti. Aku menatap kartu itu, lalu menatapnya. Dia baru bekerja selama empat tahun di Quezon City. Gajinya hanya sekitar delapan belas ribu peso per bulan. Bahkan jika dia menabung seluruh gajinya selama sepuluh tahun, dia tidak akan bisa mencapai jumlah itu.

— "Dari mana kamu mendapatkan uang ini?" tanyaku.

Dia tidak segera menjawab. Dia memegang tanganku. Aku menyadari jari-jarinya gemetar. Matanya juga memerah, seolah-olah dia tidak tidur selama beberapa malam.

— "Jangan tanya lagi, Bu."

— "Bagaimana mungkin Ibu tidak bertanya?" jawabku lirih.

— "Uang ini..." dia menghela napas panjang. "...adalah utang Papa kepadamu."

Tiba-tiba suasana di ruang tamu terasa berat. Aku tidak tahu mengapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Aku juga tidak mengerti mengapa rasanya ada sesuatu yang perlahan hancur di dalam dadaku. Dan di sanalah semuanya bermula.

1

Mira pulang seminggu yang lalu. Dia tidak mengirim pesan. Dia juga tidak menelepon. Dia tiba-tiba saja datang, menarik koper, dan masuk ke rumah kecil kami di Caloocan.

Awalnya, aku mengira dia hanya ingin mengambil beberapa pakaian. Namun saat dia meletakkan kopernya dan duduk di sofa, aku menyadari ada yang aneh dengan gerak-geriknya.

— "Ibu, aku ambil cuti kerja dulu."

— "Cuti?" tanyaku kaget. "Kenapa?"

— "Aku hanya ingin pulang sebentar."

Aku tidak memaksanya menjelaskan. Selama empat tahun bekerja di Manila, dia jarang pulang. Kadang-kadang, tiga bulan sekali baru aku bisa melihatnya lagi. Jadi ketika dia bilang ingin tinggal beberapa hari di rumah, aku merasa senang. Aku pikir dia hanya ingin istirahat. Aku tidak tahu bahwa dia membawa badai.

Dia berjalan di ruang tamu, memperhatikan setiap sudut rumah. Dia berhenti di depan sofa lama. Usianya sudah lebih dari dua belas tahun. Kulitnya sudah pudar. Bantalannya sudah amblas. Ada bagian di sandarannya yang aku jahit sendiri dengan benang.

— "Ibu..." katanya. "...sofa ini seharusnya sudah diganti."

— "Masih bagus kok," jawabku.

— "Tapi sudah rusak."

— "Masih bisa dipakai."

Dia tidak bicara lagi. Tapi aku memperhatikan dia menatap sofa itu cukup lama. Seolah sedang memikirkan sesuatu.

Malam harinya, saat kami makan, tiba-tiba dia bertanya.

— "Papa di mana?"

— "Di Cebu," jawabku sambil menyendokkan nasi ke piringnya. "Katanya ada perjalanan bisnis."

Dia hanya mengangguk. Tidak bertanya lagi. Tapi aku menyadari—sendoknya sempat terhenti sejenak.

Keesokan harinya, dia menemaniku ke pasar. Aku membeli:

Seikat kangkung,

Setengah kilo daging perut babi (liempo),

Dan dua buah tomat.

Saat kami berjalan pulang, tiba-tiba dia bertanya.

— "Ibu, kapan terakhir kali Ibu membeli baju untuk diri sendiri?"

Aku berpikir sejenak.

— "Mungkin... dua bulan lalu."

— "Apa yang Ibu beli?"

— "Kaos di pinggir jalan. Tiga puluh peso."

Dia terdiam. Sesampainya di rumah, dia membantuku merapikan belanjaan. Dia membuka lemari es. Di dalamnya ada:

Satu baki telur,

Satu wadah tahu,

Beberapa sayuran,

Dan sisa lauk dari kemarin.

— "Ibu..." katanya pelan. "...apakah Ibu selalu makan seperti ini setiap hari?"

— "Tentu saja. Itu sudah cukup."

— "Bagaimana dengan Papa?"

— "Kalau dia ada di sini, Ibu memasak lebih banyak."

— "Apa makanan kesukaannya?"

— "Adobo, sinigang, kare-kare."

Dia mengangguk. Kemudian dia menatapku.

— "Kalau Ibu... apa makanan kesukaan Ibu?"

Aku terhenti. Selama dua puluh delapan tahun hidup bersama Rogelio, belum pernah ada yang menanyakan pertanyaan itu kepadaku.

— "Apa saja," jawabku. "Ibu tidak pilih-pilih."

Dia menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi dia tidak mengucapkannya.

2

Pada hari ketiga dia menginap, tiba-tiba dia bertanya saat aku sedang menyapu.

— "Ibu, apakah Ibu tahu di mana kartu ATM Papa?"

Aku terhenti.

— "Ada padanya."

— "Ibu belum pernah melihatnya?"

— "Belum."

— "Berapa penghasilan Papa setiap bulan?"

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Selama dua puluh delapan tahun pernikahan kami, aku tidak pernah menanyakan hal itu. Awalnya, aku malu bertanya. Lama-kelamaan, aku jadi terbiasa untuk tidak bertanya. Yang aku tahu hanyalah—Rogelio yang bekerja. Aku yang mengurus rumah. Setiap bulan, dia memberiku sepuluh ribu peso untuk biaya hidup. Dan aku pikir itu sudah cukup.

Dua puluh delapan tahun aku mempercayai hal itu. Sampai akhirnya Mira meletakkan kartu ATM itu di telapak tanganku.

— "Ibu... bercerailah."

Dia mengatakannya dengan tenang. Dia tidak berteriak. Dia tidak menangis. Seolah dia sudah memikirkannya matang-matang.

— "Tiga juta..." bisikku. "Dari mana asalnya ini?"

— "Bukan dariku."

— "Dari Papa?"

— "Ya."

— "Dia memberikannya padamu?"

Dia menggeleng.

— "Tidak."

Dia terdiam sejenak.

— "Aku mengetahuinya."

3

Aku tidak bisa tidur malam itu. Di atas meja ada sebuah map tebal yang ditinggalkan Mira. Seperti sebuah kotak kebenaran. Sekitar jam tiga pagi, aku tidak bisa lagi menahan diri. Aku membukanya. Di dalamnya ada:

Rekening koran bank,

Resi transaksi,

Dan sebuah foto.

Seorang wanita. Berusia sekitar empat puluh tahun. Rambutnya panjang. Berdiri di depan sebuah Toyota Fortuner. Aku mengernyitkan dahi. Aku mengenali mobil itu. Rogelio bilang itu mobil dari kantornya. Namun menurut dokumen itu—dia sendiri yang membelinya. Dan bukan untukku. Tapi untuk wanita itu.

Aku membaca rekening korannya. Mulai tahun 2011. Setiap bulan. Ada transfer sebesar ₱50.000. Ke nama yang sama. Lorna Castillo.

Empat belas tahun. Setiap bulan. Lima puluh ribu. Totalnya hampir delapan setengah juta peso. Itu belum termasuk mobilnya. Belum termasuk rumahnya. Belum termasuk biaya lainnya.

Tiba-tiba tanganku terasa dingin. Selama dua puluh delapan tahun—bahkan sebuah blus seharga lima ratus peso pun aku tidak mampu membelinya. Tapi ada wanita lain yang diberi lima puluh ribu setiap bulan.

4

Keesokan harinya, Mira duduk di hadapanku. Kami makan bubur dalam diam.

— "Ibu..." katanya. "...apakah Ibu ingin tahu bagaimana aku mengetahui semuanya?"

Aku mengangguk. Dia menghela napas panjang.

— "Tiga bulan lalu, aku pulang ke sini untuk mengambil beberapa dokumen."

— "Ibu sedang tidak ada di rumah saat itu."

— "Ruang kerja Papa terbuka."

— "Aku melihat sebuah ponsel lama di laci."

Suaranya bergetar.

— "Aku membukanya."

— "Ada banyak pesan."

— "Dari seorang wanita."

Aku terdiam. Aku punya perasaan bahwa aku sudah tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya.

— "Wanita itu memanggil Papa 'suamiku'."

— "Dia bilang 'anak kita mendapat nilai tinggi di ujian'."

— "Dan ada satu pesan..."

Dia berhenti.

— "...Rogelio, anakmu mencarimu."

Rasanya ada sesuatu yang meledak di dalam dadaku.

— "Anak?"

Dia mengangguk.

— "Mereka punya anak."

— "Berusia lima belas tahun."

— "Laki-laki."

Aku merasa seolah seluruh duniaku runtuh. Dua puluh delapan tahun. Sebuah kebohongan yang sangat panjang. Dan di dapur kecil kami itu, aku akhirnya mengerti—Rogelio memiliki dua keluarga. Satu keluarga yang hampir tidak dia pedulikan. Dan satu keluarga yang diam-diam dia rawat selama bertahun-tahun.

Aku menatap kartu ATM di meja. Kemudian aku mengucapkan kata-kata yang tidak pernah aku sangka akan bisa aku ucapkan.

— "Mira..."

— "Ya, Bu?"

— "Ibu akan bercerai."

Dia tidak bicara. Tapi aku melihat air mata menetes dari matanya. Dan pada saat itu—kami mendengar sebuah mobil berhenti di depan rumah. Ada suara kunci di pintu. Pintu perlahan terbuka. Dan kami mendengar suara yang sudah lama aku kenal.

— "Aku pulang."

Rogelio telah kembali. Dan di tanganku—aku memegang erat map yang mampu menghancurkan segalanya.

Sumber tautan: https://web.facebook.com/share/p/1HXtTfQRCe/

Komentar