Driver Grab
Halo, Sahabat Dunia Cerita! Kenalkan saya Admin Perpusduta. Kali ini izinkan saya berbagi sebuah cerita yang berjudul Driver Grab. Cerita ini saya dapat dari Facebook dan diposting oleh Takdir Orang Biasa. Yuk kita baca sama-sama! :)
DRIVER GRAB YANG TAK TEGA MENAGIH ONGKOS DARI PENUMPANG PERAWAT KARENA KASIHAN—NAMUN SAAT IA TURUN, IA MENINGGALKAN SESUATU DI KURSI YANG MEMBUAT SEORANG AYAH BERLUTUT DI TENGAH JALAN!
Namaku Rizky, 32 tahun. Siang hari aku adalah driver Grab yang selalu berusaha tersenyum. Tapi malam hari, aku hanyalah seorang ayah yang diam-diam menangis sambil memegang setir.
Tiga minggu lalu, anakku Kaila, 7 tahun, dilarikan ke ICU. Infeksi darah parah. Anak yang dulu selalu menyambutku dengan pelukan hangat, kini terbaring lemah, terhubung dengan berbagai mesin.
Setiap angka yang bertambah di argo mobilku… terasa seperti menghitung waktu hidupnya.
Aku butuh Rp25 juta untuk biaya awal, atau pengobatannya akan dihentikan. Kami tidak punya uang sebanyak itu. Aku sudah bekerja siang malam tanpa henti, tapi tetap belum cukup.
Suatu dini hari, saat aku berhenti di lampu merah kawasan Sudirman sambil menahan tangis, masuk sebuah order. Penjemputan di sebuah rumah sakit.
Seorang wanita masuk ke mobilku. Ia mengenakan scrubs. Seorang perawat. Wajahnya pucat, matanya merah—jelas sangat lelah, seolah memikul beban dunia.
“Selamat pagi, Bu,” sapaku, berusaha menyembunyikan suara yang serak.
“Ke RS Harapan Kita ya, Pak,” jawabnya pelan.
Aku melirik ke kaca spion. Di sanalah anakku dirawat.
Perjalanan terasa sunyi. Namun karena beban di dadaku terlalu berat, aku akhirnya berbicara.
“Ibu perawat ya? Kalau boleh… bisa tolong cek anak saya nanti kalau Ibu ke sana? Dia di ICU… namanya Kaila.”
Perawat itu terdiam. Lalu menatapku lewat kaca.
“Kaila… yang suka warna pink?” tanyanya.
Aku terkejut. “Iya! Ibu yang merawat dia?”
Ia menghela napas panjang. “Saya Perawat Dinda. Tadi sebelum saya pulang shift, saya yang menangani dia. Anak Bapak kuat sekali… meskipun kesulitan bernapas, dia bilang ke saya: ‘Jangan bilang ke Daddy kalau aku kesakitan… nanti Daddy nangis pas nyetir.’”
Mendengar itu, aku langsung hancur. Aku menepikan mobil di pinggir jalan. Air mataku pecah. Aku tak kuat lagi menahan semuanya.
Anakku… justru mengkhawatirkanku, saat dirinya sendiri sedang berjuang antara hidup dan mati.
Perawat Dinda menepuk pelan punggungku.
“Bapak harus kuat. Kaila sedang berjuang.”
Setelah sedikit tenang, aku mengantarnya sampai tujuan. Saat ia hendak membayar, aku menggeleng.
“Tidak usah, Bu Dinda. Apa yang Ibu lakukan untuk anak saya… itu sudah lebih dari cukup. Tolong jaga dia lagi nanti saat Ibu masuk shift.”
Perawat Dinda tersenyum tipis. Sebelum turun, ia meletakkan sebuah amplop putih di kursi penumpang.
“Pak… buka saja nanti setelah saya turun. Ini untuk Kaila.”
Kupikir hanya tip atau bantuan kecil.
Tapi saat aku membuka amplop itu…
Bukan selembar uang seratus ribu yang kutemukan. Bukan pula sekadar uang tip hasil jerih payahnya berjaga semalaman.
Di dalam amplop itu terdapat sebuah Kuitansi Pelunasan Rumah Sakit yang masih basah tintanya, lengkap dengan stempel “LUNAS” berwarna merah besar. Di atasnya tertulis nama anakku: Kaila Rizky.
Angka di kolom total pembayaran membuat jantungku seolah berhenti berdetak: Rp27.450.000.
Aku gemetar. Tanganku dingin. Di balik kuitansi itu, ada secarik memo kecil yang ditulis dengan tulisan tangan yang terburu-buru:
“Pak Rizky, semalam saya baru saja menerima pencairan dana asuransi jiwa almarhum putra saya yang meninggal setahun lalu karena penyakit yang sama dengan Kaila. Saya terus berdoa pada Tuhan agar uang ini jatuh ke tangan yang tepat. Saat Bapak menyebut nama Kaila dan bercerita tentang kekhawatirannya pada ayahnya, saya tahu… ini adalah amanah dari putra saya untuk Kaila. Tolong, jangan ditolak. Berjanjilah untuk terus tersenyum demi Kaila, karena senyum ayahnya adalah obat terbaik baginya.”
Aku langsung keluar dari mobil. Aku berlari mengejar bayangan Perawat Dinda yang baru saja masuk ke gerbang rumah sakit, tapi dia sudah menghilang di balik pintu otomatis gedung ICU.
Di tengah aspal jalanan yang masih basah oleh embun dini hari, di bawah lampu jalan yang temaram, pertahananku runtuh total. Aku berlutut di tengah jalan, mendekap kuitansi itu di dadaku seolah-olah itu adalah nyawa anakku sendiri.
Aku meraung dalam tangis syukur yang tak terbendung. Orang-orang yang lewat mungkin menganggapku gila, tapi mereka tidak tahu bahwa beban seberat gunung yang menghimpit pundakku selama tiga minggu ini baru saja diangkat oleh tangan seorang “malaikat” berseragam perawat.
Pagi itu, aku tidak kembali menarik penumpang. Aku berlari menuju ruang ICU. Melalui kaca pembatas, aku melihat Kaila. Dia membuka matanya sedikit, melihatku, dan memberikan senyum lemahnya yang paling indah.
Aku menempelkan telapak tanganku di kaca, membisikkan kata yang selama ini tertahan di tenggorokan:
“Kaila… Daddy tidak akan menangis lagi. Kita pulang, Nak. Kita akan pulang.”
Hari itu aku belajar, bahwa terkadang saat kita merasa paling sendirian di kursi kemudi kehidupan, Tuhan mengirimkan penumpang yang tidak hanya membayar ongkos perjalanan, tapi juga membayar sisa masa depan kita.
Sumber tautan: https://web.facebook.com/share/p/18Wm9CnapW/
0 Komentar:
Kirim Komentar