Calon Suamimu

Dibaca: - orang
Durasi Baca: -
Kata: -
Karakter (tanpa spasi): -
Karakter (dengan spasi): -
Paragraf: -
Baris: -

Halo, Sahabat Dunia Cerita! Kenalkan saya Admin Perpusduta. Kali ini izinkan saya berbagi sebuah cerita yang berjudul CALON SUAMIMU. Cerita ini saya dapat dari Facebook dan diposting oleh Digie. Yuk kita baca sama-sama! :)

Bagi Rindi, kebahagiaan sejati saat berhasil merebut apa yang dimiliki oleh Arsita. Setiap kali Arsita dekat dengan seorang lelaki, Rindi akan berusaha merebutnya dengan cara apapun.

Sudah tujuh hari belakangan ini, tepat saat matahari mulai condong ke barat, ia melihat Arsita pulang kerja tidak lagi sendirian, melainkan ditemani oleh seorang lelaki muda tampan, kulitnya bersih, tubuhnya tegap, dan wajahnya memiliki daya tarik yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

"Boleh juga tuh cowok baru Arsita," gumam Rindi dengan senyum bi-nal. Baginya, lelaki itu adalah tantangan baru yang harus ditaklukkan.

Malam itu, Rindi melihat Arsita pulang kerja bersama lelaki yang kemarin.

Dia membuntuti dari belakang dengan hati-hati. Keberuntungan datang, saat Arsita memutuskan untuk mampir ke sebuah warung kelontong yang cukup ramai, sementara lelaki muda itu memilih menunggu di luar, berdiri diam di bawah temaram lampu jalan.

Rindi segera merapikan rambutnya dan memulas bibir dengan gincu merah menyala. Ia melangkah mendekat dengan gaya yang dibuat-buat anggun.

"Mas, lagi nunggu siapa?" tanya Rindi memulai percakapan, mencoba memberikan tatapan yang paling menggoda.

Lelaki itu menoleh perlahan. "Arsita," jawabnya singkat.

"Owh, Mas temannya Arsita ya? Kebetulan saya tetangganya, teman akrabnya juga sejak SMA," ujar Rindi.

"Bukan teman, saya calon suaminya," jawabnya mantap.

Deg. Jantung Rindi berdegup kencang. Calon suami? batinnya bersorak. "Wah, ini sasaran empuk. Merebut pacar itu biasa, merebut calon suami baru luar biasa," pikirnya licik.

Tanpa membuang waktu, Rindi merogoh tas kecilnya. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi bedak halus—bedak pelet yang ia dapatkan dari dukun tersohor. Dengan gerakan cepat yang terlatih, ia meniupkan bedak itu ke arah lelaki muda tersebut.

Seketika, tatapan mata lelaki itu berubah. Sorot matanya yang tadinya tajam kini menjadi kosong, namun penuh dengan hasrat yang aneh.

"Mas, ikut saya sebentar yuk," bisik Rindi sambil menyentuh lengan lelaki itu.

Tanpa bertanya, tanpa keraguan, lelaki muda itu mengangguk kaku. Rindi membawanya pergi, menjauh dari keramaian warung, menembus rimbunnya ladang jagung di pinggir desa hingga sampai ke sebuah gubuk tua. Di bawah sinar bulan yang tertutup awan, Rindi merasa telah memenangkan segalanya.

Keesokan harinya, matahari bersinar cerah. Rindi keluar rumah dengan perasaan sangat puas. Ia melihat Arsita sedang melakukan olahraga lari kecil di halaman depan rumahnya. Rindi sengaja menghampiri dengan gaya angkuh.

"Arsita, kapan sih kamu mau nikah? Masa kalah terus sama aku yang sudah jadi janda tiga kali? Jangan terlalu pemilih, nanti jadi perawan tua lho," ledek Rindi dengan tawa yang dibuat-buat.

Arsita berhenti berlari, ia menyeka keringat di dahinya menatap Rindi. "Rin, aku lagi males ribut sama kamu. Soal nikah, kalau waktunya sudah tepat dan jodohnya datang, pasti aku akan menikah. Tidak perlu buru-buru."

Rindi mendengus sinis. "Owh, mau nikah sama Bram? Sebaiknya kamu pikir-pikir dulu deh, Sit. Lebih baik jadi perawan tua daripada dapat lelaki sisa, apalagi bekas aku."

Dahi Arsita berkerut. "Bram? Siapa itu Bram?"

"Halah, jangan pura-pura nggak tahu. Bram calon suamimu yang masih brondong dan ganteng itu. Tapi sayang ya, semalam dia sudah aku cicipi di gubuk tengah ladang. Ternyata dia gampang banget tergoda," ucap Rindi dengan nada bangga yang meluap-luap.

Arsita terdiam sejenak. "Maaf Rin, aku nggak pernah kenal dengan yang namanya Bram. Lagipula, aku belum punya calon suami, apalagi yang sering jalan bareng. Akhir-akhir ini aku selalu lembur dan pulang sendirian."

Wajah Rindi mendadak kaku. "Bohong! Aku lihat sendiri tujuh hari ini kamu jalan sama dia! Dia pasti sudah mencampakkan kamu karena merasa lebih nyaman sama aku, iya kan?!"

"Terserah kamu mau percaya atau tidak, Rin. Tapi aku bicara jujur. Tetangga lain juga tahu kalau aku selalu pulang malam sendirian. Coba tanya Ibuku kalau tidak percaya," ucap Arsita.

Rindi tahu Arsita tidak pernah berbohong. Sepanjang mereka berteman dan bertetangga, Arsita adalah orang yang paling jujur. Wajahnya yang semula kemerahan karena bangga, mendadak pucat pasi seperti mayat.

Tanpa pamit, Rindi berlari meninggalkan Arsita. Rasa cemas yang luar biasa mendorongnya untuk pergi ke rumah Mbah Dukun, tempat ia biasa mengambil bedak peletnya.

Sesampainya di sana, sebelum Rindi sempat berucap, Mbah Dukun sudah menatapnya dengan pandangan ngeri.

"Mbah... lelaki yang saya temui kemarin... yang saya pelet... dia calon suaminya Arsita, tapi Arsita bilang dia tidak kenal..."

"Yang bersama kamu kemarin itu bukan manusia. Itu adalah Genderuwo yang menjelma."

"Tidak... tidak mungkin! Dia sangat tampan, Mbah!" teriak Rindi histeris.

Dunia seolah runtuh bagi Rindi. Ia pulang dengan kaki yang lemas. Sejak hari itu, kehidupan Rindi berubah total. Tak pernah keluar rumah.

TAMAT

Sumber tautan: https://web.facebook.com/share/p/1AxaEPxfqc/