Beras yang Tak Pernah Habis
Halo, Sahabat Dunia Cerita! Kenalkan saya Admin Perpusduta. Kali ini izinkan saya berbagi sebuah cerita yang berjudul Beras yang Tak Pernah Habis. Cerita ini saya dapat dari Facebook dan diposting oleh Eka Munandar. Yuk kita baca sama-sama! :)
Di pasar tradisional yang selalu ramai sejak subuh, ada satu toko beras yang tak pernah sepi.
Karung-karung tersusun rapi. Timbangan tua tergantung di tengah.
Dan di baliknya, berdiri seorang pria sederhana dengan senyum hangat.
Namanya Pak Jaya.
Orang-orang mengenalnya sebagai juragan beras paling besar di daerah itu. Stoknya selalu ada. Harganya tak pernah mencekik. Dan yang paling aneh…
Ia sering memberi lebih dari yang dibayar.
Suatu pagi, seorang ibu datang dengan wajah ragu.
“Pak… saya cuma punya uang segini…” katanya sambil membuka genggaman uang receh.
“Itu buat dua kilo ya, Pak…?”
Pak Jaya menimbang. Jarum timbangan berhenti di angka dua… lalu ia tambahkan lagi.
“Tiga kilo, Bu.”
Ibu itu terkejut.
“Tapi uang saya—”
Pak Jaya tersenyum.
“Yang satu kilo itu dari Allah. Saya cuma perantara.”
Ibu itu pulang sambil menahan tangis.
Tak hanya itu.
Setiap akhir pekan, selalu ada beberapa karung kecil di depan tokonya. Tanpa tulisan harga. Tanpa penjaga.
Hanya secarik kertas:
“Ambil jika butuh. Bayar jika mampu.”
Banyak yang heran.
“Pak Jaya, nanti rugi…”
Ia hanya tertawa kecil.
“Kalau saya hitung pakai matematika, mungkin rugi. Tapi kalau pakai keyakinan… saya belum pernah kekurangan.”
Namun tak semua orang senang melihat kebaikan.
Di pasar yang sama, ada pedagang lain yang mulai iri.
“Dia itu pura-pura baik…”
“Biar dagangannya laris…”
Bisik-bisik mulai menyebar.
Suatu hari, fitnah itu sampai lebih jauh.
Seorang pemasok besar menahan kiriman beras ke toko Pak Jaya. Katanya, ada laporan bahwa Pak Jaya bermain curang dalam distribusi.
Stok mulai menipis.
Istrinya panik.
“Pak… beras kita tinggal sedikit. Kalau ini habis, kita jual apa?”
Pak Jaya diam. Menatap karung terakhir di gudang.
Malam itu ia sujud lebih lama dari biasanya.
“Ya Allah… jika ini cara-Mu menguji keikhlasanku, jangan biarkan aku berhenti berbagi.”
Keesokan harinya, seorang lelaki tua datang ke toko.
“Pak… saya belum makan dua hari…”
Pak Jaya melihat ke gudang.
Tinggal satu karung.
Ia menarik napas… lalu memanggul karung itu sendiri.
“Bawa ini, Pak.”
Lelaki tua itu gemetar.
“Semua… untuk saya?”
Pak Jaya tersenyum.
“Rezeki itu bukan soal siapa yang menyimpan… tapi siapa yang paling membutuhkan.”
Hari itu… tokonya kosong.
Benar-benar kosong.
Tak ada beras tersisa.
Ia hanya duduk di kursi kayu. Istrinya menatap dengan mata berkaca-kaca.
“Sekarang kita bagaimana, Pak…?”
Pak Jaya tersenyum pelan.
“Kita tunggu cara Allah.”
***
Menjelang sore, sebuah truk besar berhenti di depan toko.
Beberapa orang turun.
“Ini toko Pak Jaya?”
“Iya…”
“Kami dari koperasi pusat. Kami dengar Bapak selalu membantu warga tanpa pamrih. Ada program distribusi beras langsung dari pusat… dan kami mencari orang yang bisa dipercaya.”
Pak Jaya terdiam.
“Mulai hari ini, Bapak jadi penyalur utama untuk wilayah ini.”
Karung-karung beras diturunkan. Banyak. Lebih banyak dari yang pernah ia miliki.
Istrinya menangis.
Pak Jaya menatap langit.
“Ya Allah… Engkau tak pernah salah menakar.”
Sejak hari itu, tokonya bukan hanya tempat jual beli.
Tapi tempat orang belajar arti cukup.
Karena di sana, beras bukan sekadar makanan.
Ia adalah bukti…
bahwa ketika kita memberi dengan ikhlas,
Allah yang akan memastikan…
kita tak pernah benar-benar kehabisan.
( EM - Bilik Sastra Depok)
Sumber tautan: https://web.facebook.com/share/p/198vaXqR5b/
0 Komentar:
Kirim Komentar