Tiga Potong Roti
Halo, Sahabat Dunia Cerita! Kali ini izinkan saya berbagi sebuah cerita yang berjudul Tiga Potong Roti. Cerita ini saya dapat dari Facebook dan diposting oleh Cerita Dongeng Indonesia. Yuk kita baca sama-sama! :)
Di sebuah dusun di pinggir kota tinggalah sebuah keluarga. Kepala keluarganya bernama Kosim. Dia tinggal bersama istrinya dan ketiga anaknya. Mereka sangat miskin, hingga untuk makan sehari-hari saja mereka sering kekurangan. Maklumlah, Kosim bukan orang berpendidikan dan hanya mengandalkan pendapatan dari hasil mencari barang bekas yang tersangkut di aliran sungai, dan kemudian dia jual ke pengepul. Hasilnya memang tidak seberapa. Tapi dari sanalah mereka bisa bertahan hidup.
Namun sudah seminggu ini hujan terus menerus turun dengan lebatnya. Kosim tidak bisa pergi untuk mencari rongsokan karena sungai banjir dan sangat berbahaya. Mereka terpaksa bertahan dengan persediaan makanan di dapur sederhana miliknya. Tentu saja lama-lama persediaan mereka semakin sedikit, hingga suatu hari istri Kosim menghampirinya.
“Pak, saya khawatir dengan keadaan anak-anak kita. Kita tidak punya persediaan makanan lagi. Makanan yang tersisa hanya tinggal tiga potong roti. Dan itupun tidak cukup untuk makan kita berlima. Kita harus segera mencari uang untuk membeli makanan!” katanya.
“Aku tahu…,” kata Kosim. “Tapi bagaimana lagi? Hujan tidak juga mau berhenti. Aku tidak bisa mencari rongsokan. Bersabarlah bu! Mudah-mudahan besok hari terang dan aku bisa bekerja. Biarlah persediaan terakhir kita anak-anak saja yang makan.”
Menjelang sore ada yang mengetuk pintu rumah Kosim. Ternyata seorang pengemis tua yang basah kuyup berdiri di luar pintu rumahnya. Pengemis itu tampak kedinginan. Kosim segera menyuruhnya masuk supaya terhindar dari hujan.
“Terima kasih tuan,” kata pengemis tua, “saya sudah berhari-hari kehujanan. Tidak ada tempat untuk berteduh. Dan perutku lapar sekali. Kalau boleh, saya ingin meminta sisa makanan untuk mengganjal perutku.”
Kosim terdiam. Dia kasihan sekali melihat pengemis tua itu. Tapi mereka tidak punya persediaan makanan lagi.
“Sayang sekali aku tidak memiliki sisa makanan. Karena saat ini kami pun sedang kekurangan makanan,” kata Kosim.
“Oh kasihanilah saya Tuan! Sudah tiga hari ini saya belum makan,” kata pengemis.
Kosim merasa sangat iba, maka dia segera menghampiri istrinya dan berkata, “Bu, saya kasihan melihat pengemis tua itu. Bagaimana kalau kita berikan saja persediaan makanan terakhir kita. Mudah-mudahan anak-anak bisa bertahan dan besok hujan berhenti sehingga aku bisa bekerja mencari rizki.”
“Baiklah pak, saya akan segera ambil persediaan makanan kita,” kata istrinya
Akhirnya istri Kosim pergi ke dapur dan mengambil tiga potong roti tersebut dan menghidangkannya kepada si pengemis tua. Pengemis itu memakan dua potong roti dan menyisakan sepotong roti saja. Kemudian setelah beristirahat sejenak, si pengemis itu pun berpamitan,
“Terima kasih tuan. Karena tuan, hari ini perutku tidak kelaparan.”
“Sama-sama kek,” kata Kosim. “Sudah seharusnya kita saling menolong. Tapi kenapa kakek tidak menunggu hujan reda? Bagaimana kalau kakek sakit?”
“Tidak apa-apa! Perutku sudah terisi, jadi aku pasti kuat meski kehujanan,” katanya.
“Baiklah kalau begitu! Hati-hati di jalan ya kek!” kata Kosim.
“O ya, tadi aku menyisakan sepotong roti di piring. Jika nanti kalian ingin makan. Iris-iris roti itu menjadi lima iris. Pasti akan cukup untuk kalian berlima. Nah selamat tinggal!” kata pengemis tua.
Setelah kepergian pengemis tua itu, Kosim memandang satu potong roti yang tersisa di piring dan berpikir,
“Mana mungkin sepotong roti ini bisa cukup untuk kami?” Namun karena penasaran, maka dia mengajak keluarganya untuk berkumpul dan kemudian mengiris-iris roti itu menjadi lima iris.
Ajaib! Ternyata kelima iris roti itu berubah menjadi lima potong roti besar yang utuh. Dan jika satu potong roti itu diiris menjadi lima iris lagi akan berubah menjadi lima potong roti utuh lagi demikian seterusnya. Alhasil Kosim dan keluarganya tidak kekurangan makanan, bahkan persediaan makanan mereka sekarang berlimpah.
Kosim dan keluarganya sangat bersyukur atas anugrah-Nya. Tidak lupa dia pun membagi-bagikannya kepada tetangga-tetangga mereka yang kekurangan.
Sayangnya, Kosim tidak pernah bisa menemukan pengemis tua yang telah memberikan keajaiban bagi keluarganya. Mereka hanya bisa mendoakan keselamatan baginya dan berharap yang terbaik untuknya.
Pesan Moral :
Pesan moral dari cerita "Tiga Potong Roti" adalah bahwa kebaikan dan kemurahan hati, terutama dalam keadaan sulit, akan selalu mendatangkan berkah. Kosim dan keluarganya memilih untuk membantu orang lain meski mereka sendiri sedang kekurangan. Keajaiban yang mereka alami menunjukkan bahwa berbagi dengan tulus, tanpa mengharapkan balasan, bisa mendatangkan keberkahan yang lebih besar. Kebahagiaan dan kecukupan sering kali datang kepada mereka yang bersedia peduli dan membantu sesama, meski dalam kondisi terbatas.
Sumber tautan: https://web.facebook.com/share/p/1Dcoj32RDn/
Komentar
Posting Komentar